Kompetensi Leadership #2. ACTION ORIENTED
Bukan yang paling pintar yang menang. Tapi yang paling cepat bergerak. Analisis memang penting — tapi terlalu banyak analisis melahirkan paralysis. Leader yang efektif tahu kapan harus berhenti berpikir dan mulai bertindak. Mereka membangun budaya di mana "done is better than perfect" bukan sekadar slogan, tapi cara kerja sehari-hari.
ACTION ORIENTED
MuktyTalenta
6/11/202611 min read


1. Apa Itu Action Oriented?
Action Oriented adalah kompetensi kepemimpinan yang menunjukkan kemampuan seorang Leader untuk bergerak cepat, mengambil tindakan, menangkap peluang, dan menyelesaikan pekerjaan tanpa terlalu lama terjebak dalam analisis atau keraguan.
Leader yang memiliki kompetensi ini biasanya tidak hanya banyak berpikir atau banyak berdiskusi, tetapi juga mendorong sesuatu menjadi nyata. Ia melihat tantangan sebagai sesuatu yang menarik, bukan sebagai beban. Ia memiliki energi tinggi untuk menyelesaikan pekerjaan, terutama pekerjaan yang menantang, mendesak, atau memiliki dampak besar.
Dalam konteks leadership, Action Oriented bukan berarti asal cepat, tetapi kemampuan untuk:
Mengambil langkah nyata;
Berani memulai walaupun informasi belum 100% lengkap;
Tidak takut mencoba;
Cepat merespons peluang;
Menjaga momentum kerja;
Menyelesaikan masalah secara aktif;
Tidak menunggu semua kondisi sempurna baru bertindak.
Kompetensi ini sangat penting dalam dunia bisnis dan organisasi karena banyak peluang hilang bukan karena Leader tidak pintar, tetapi karena terlalu lama menunggu, terlalu banyak mempertimbangkan, atau takut salah mengambil keputusan.
2. Ciri Leader yang Skilled dalam Action Oriented
Seorang Leader dikatakan skilled atau kuat dalam kompetensi Action Oriented apabila ia menunjukkan perilaku berikut.
a. Menikmati Kerja Keras
Ia tidak mudah mengeluh ketika menghadapi pekerjaan berat. Justru ia merasa tertantang ketika diberi tugas yang membutuhkan energi, ketekunan, dan kecepatan.
Contohnya:
Bersedia turun langsung menyelesaikan masalah;
Tidak hanya memberi arahan, tetapi juga ikut mendorong eksekusi;
Tetap aktif walaupun situasi sedang sulit;
Tidak mudah menyerah ketika hasil belum sesuai harapan.
Leader seperti ini biasanya menjadi penggerak dalam tim karena energinya bisa menular kepada Leader lain.
b. Penuh Energi terhadap Tantangan
Leader yang Action Oriented biasanya memiliki semangat tinggi ketika melihat masalah atau peluang. Ia tidak pasif menunggu instruksi terus-menerus.
Misalnya, ketika ada keluhan customer, ia segera mencari akar masalah dan mengajak tim bertindak. Ketika ada peluang bisnis baru, ia tidak hanya berkata “nanti kita pikirkan”, tetapi mulai menyusun langkah awal.
c. Tidak Takut Bertindak dengan Perencanaan Minimum
Ini bukan berarti bertindak sembarangan. Maksudnya, ia mampu mengambil tindakan awal walaupun rencana belum sempurna.
Dalam dunia nyata, tidak semua keputusan bisa menunggu data lengkap. Kadang leader harus mengambil keputusan dengan informasi 60–70%, lalu memperbaiki sambil berjalan.
Contohnya:
Melakukan pilot project kecil sebelum membuat program besar;
Mencoba pendekatan baru sambil mengukur hasil;
Segera mengambil tindakan pencegahan ketika ada risiko besar;
Tidak menunggu semua dokumen sempurna untuk mulai memperbaiki proses.
d. Lebih Banyak Menangkap Peluang daripada Leader Lain
Leader dengan kompetensi ini memiliki kecenderungan untuk melihat kesempatan dan langsung bergerak. Ia tidak hanya melihat hambatan, tetapi juga bertanya:
“Langkah pertama apa yang bisa kita lakukan sekarang?”
Ia sering lebih dulu mengambil peluang karena tidak terlalu lama menunggu validasi dari semua pihak.
3. Ciri Leader yang Unskilled dalam Action Oriented
Seorang Leader yang belum kuat dalam kompetensi ini biasanya bukan berarti tidak mampu, tetapi ada hambatan dalam cara berpikir, motivasi, keberanian, atau kebiasaan kerjanya.
a. Lambat Bertindak terhadap Peluang
Ia melihat peluang, tetapi tidak segera mengambil langkah. Akibatnya peluang bisa diambil Leader lain, momentum hilang, atau masalah menjadi semakin besar.
Contohnya:
Terlalu lama menunda follow up customer;
Menunggu arahan terus-menerus;
Tidak segera mengeksekusi ide bagus;
Baru bergerak setelah situasi menjadi krisis.
b. Terlalu Metodis, Perfeksionis, atau Takut Risiko
Kehati-hatian memang penting. Tetapi jika berlebihan, kehati-hatian berubah menjadi hambatan.
Leader seperti ini sering berpikir:
“Saya harus punya data lengkap dulu.”
“Saya takut kalau hasilnya salah.”
“Lebih baik tunggu instruksi.”
“Jangan mulai dulu sebelum semua sempurna.”
Masalahnya, dalam bisnis dan organisasi, kondisi sempurna hampir tidak pernah ada. Leader yang terlalu perfeksionis bisa membuat organisasi kehilangan kecepatan.
c. Suka Menunda
Prokrastinasi adalah salah satu tanda lemah dalam Action Oriented. Leader tersebut tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak segera melakukannya.
Penyebabnya bisa bermacam-macam:
Takut gagal;
Bingung mulai dari mana;
Merasa pekerjaan terlalu besar;
Tidak tertarik dengan tugasnya;
Tidak punya energi;
Terlalu banyak gangguan;
Tidak ada tekanan target yang jelas.
d. Tidak Menetapkan Target yang Menantang
Leader yang kurang Action Oriented cenderung bermain aman. Ia menetapkan target yang mudah dicapai agar tidak berisiko gagal.
Padahal, leadership membutuhkan keberanian untuk menetapkan target yang mendorong pertumbuhan. Target yang terlalu nyaman membuat tim tidak berkembang.
e. Kurang Percaya Diri untuk Bertindak
Ada Leader yang sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi ragu mengambil langkah karena takut dikritik, takut salah, atau takut bertanggung jawab.
Ciri-cirinya:
Sering meminta persetujuan untuk hal kecil;
Sulit mengambil keputusan;
Sering berkata “saya tunggu arahan dulu”;
Menghindari inisiatif;
Lebih nyaman menjadi pengamat daripada pelaku.
f. Tahu Apa yang Harus Dilakukan, tetapi Ragu Melakukannya
Ini sering terjadi pada middle manager atau supervisor. Mereka paham masalahnya, tahu solusinya, tetapi tidak berani mengeksekusi karena takut konflik, takut gagal, atau takut dimarahi atasan.
Dalam organisasi, kondisi ini berbahaya karena pengetahuan tidak berubah menjadi tindakan.
g. Tidak Termotivasi, Bosan, atau Burnout
Lemahnya Action Oriented juga bisa berasal dari kelelahan mental. Leader yang burnout biasanya tidak punya energi untuk bertindak cepat.
Gejalanya:
Terlihat pasif;
Kehilangan antusiasme;
Bekerja hanya sekadar menggugurkan kewajiban;
Tidak lagi tertarik mengambil tantangan;
Lambat merespons pekerjaan;
Mudah merasa berat menghadapi tugas baru.
Untuk kasus seperti ini, solusinya bukan hanya diberi target lebih tinggi, tetapi perlu dilihat juga faktor beban kerja, makna pekerjaan, dukungan atasan, dan kondisi pribadi.
4. Risiko Jika Action Oriented Digunakan Berlebihan
Kompetensi yang baik pun bisa menjadi masalah jika dipakai berlebihan. Leader yang terlalu Action Oriented bisa terlihat produktif, tetapi sebenarnya berisiko menimbulkan kerusakan sistemik.
a. Menjadi Workaholic
Ia bekerja terus-menerus, sulit berhenti, dan merasa bersalah ketika tidak bekerja. Dalam jangka pendek mungkin terlihat hebat, tetapi dalam jangka panjang bisa merusak kesehatan, keluarga, dan kualitas keputusan.
b. Mendorong Solusi sebelum Analisis Cukup
Leader yang terlalu cepat bertindak bisa langsung memberikan solusi sebelum memahami akar masalah.
Contohnya:
Langsung mengganti Leader tanpa memahami masalah proses;
Langsung membeli mesin baru padahal masalahnya skill operator;
Langsung mengubah struktur organisasi padahal masalahnya komunikasi;
Langsung menekan tim tanpa memperbaiki prioritas kerja.
Kecepatan tanpa analisis bisa menghasilkan keputusan yang mahal.
c. Tidak Strategis
Terlalu fokus pada tindakan bisa membuat seorang Leader sibuk, tetapi tidak efektif. Ia mengerjakan banyak hal, tetapi belum tentu hal yang paling penting.
Bahaya terbesarnya adalah terlihat aktif, tetapi tidak menciptakan dampak besar.
d. Over Manage agar Semua Cepat Selesai
Leader yang terlalu Action Oriented bisa menjadi terlalu mengontrol. Ia ingin semua berjalan cepat, sehingga terlalu sering mengecek, mengintervensi, atau mengambil alih pekerjaan bawahan.
Dampaknya:
Tim tidak mandiri;
Bawahan takut mengambil keputusan;
Kreativitas menurun;
Leader menjadi bottleneck;
Suasana kerja menjadi tegang.
e. Mengabaikan Keluarga dan Kehidupan Pribadi
Karena terlalu fokus pada pekerjaan, ia bisa kehilangan keseimbangan hidup. Lama-lama ini bisa menimbulkan masalah keluarga, stres, kesepian, atau kehilangan makna personal.
f. Mengabaikan Tugas Penting yang Tidak Menantang
Leader yang suka tantangan kadang menghindari pekerjaan rutin yang sebenarnya penting, seperti dokumentasi, administrasi, follow up kecil, coaching bawahan, atau review data.
Padahal dalam organisasi, banyak hal penting justru tidak selalu terlihat menarik.
g. Burnout
Jika terus memaksa diri bergerak cepat tanpa istirahat dan refleksi, Leader yang Action Oriented bisa mengalami kelelahan berat.
Ciri burnout:
Mudah marah;
Sulit fokus;
Kehilangan motivasi;
Keputusan makin impulsif;
Fisik mudah sakit;
Hubungan dengan leader lain memburuk.
5. Cara Mengembangkan Kompetensi Action Oriented
Pengembangan kompetensi ini perlu dilakukan melalui tiga jalur: experience based, feedback based, dan education based.
A. Pengembangan Berbasis Pengalaman
Pengembangan terbaik untuk Action Oriented adalah melalui pengalaman langsung. Kompetensi ini tidak cukup dipahami secara teori. Harus dilatih dengan tindakan nyata.
1. Ambil Tugas yang Tidak Disukai
Salah satu cara terbaik untuk membangun Action Oriented adalah dengan sengaja mengambil tugas yang biasanya dihindari.
Contoh tugas:
Menyelesaikan laporan yang tertunda;
Menindaklanjuti customer sulit;
Membereskan data yang berantakan;
Menangani konflik tim;
Menyelesaikan pekerjaan administrasi;
Memperbaiki area kerja yang kacau.
Tujuannya adalah melatih diri agar tidak hanya bergerak ketika pekerjaan menyenangkan, tetapi juga tetap bertindak ketika pekerjaan terasa tidak nyaman.
Latihan praktis:
Pilih satu tugas yang selama ini ditunda;
Pecah menjadi langkah kecil;
Tetapkan deadline pendek;
Kerjakan 30 menit pertama tanpa menunggu mood;
Laporkan progres kepada atasan atau rekan.
Prinsipnya: jangan menunggu motivasi muncul, mulai dulu agar motivasi terbentuk.
2. Terlibat dalam Fix-It atau Turnaround Project
Fix-it project adalah proyek untuk memperbaiki sesuatu yang bermasalah. Turnaround project adalah proyek membalikkan kondisi buruk menjadi lebih baik.
Contohnya:
Memperbaiki proses delivery yang sering terlambat;
Menurunkan defect produksi;
Mempercepat proses approval;
Memperbaiki koordinasi antar departemen;
Menghidupkan kembali project yang mandek;
Memperbaiki performa tim yang turun.
Project seperti ini sangat baik untuk melatih Action Oriented karena situasinya biasanya tidak ideal. Data mungkin belum lengkap, Leader belum kompak, tekanan tinggi, dan hasil harus cepat terlihat.
Dalam project seperti ini, seorang Leader belajar:
Mengambil keputusan di tengah ketidakpastian;
Menentukan prioritas;
Menggerakkan leader;
Menyelesaikan hambatan;
Mengubah rencana menjadi tindakan nyata.
3. Komitmen pada Waktu yang Ketat
Leader yang kurang Action Oriented sering terlalu longgar dalam target waktu. Karena itu, latihan yang efektif adalah membuat deadline lebih ketat dari biasanya.
Contoh:
Pekerjaan yang biasa selesai 10 hari, targetkan 7 hari;
Follow up yang biasanya dilakukan minggu depan, lakukan hari ini;
Meeting yang biasanya hanya diskusi, akhiri dengan action plan hari itu juga;
Ide yang biasanya hanya dibahas, ubah menjadi pilot project kecil dalam 48 jam.
Namun deadline ketat harus tetap masuk akal. Tujuannya bukan membuat panik, tetapi melatih kecepatan eksekusi.
B. Pengembangan Berbasis Feedback
Action Oriented perlu dikembangkan dengan feedback karena kadang seorang Leader tidak sadar apakah ia terlalu lambat, terlalu cepat, atau tidak seimbang.
1. Minta Feedback dari Atasan Langsung
Atasan langsung biasanya bisa melihat apakah seorang Leader cukup cepat bertindak atau terlalu banyak menunda.
Pertanyaan yang bisa diajukan:
“Apakah saya cukup cepat menindaklanjuti peluang?”
“Di area mana saya terlihat terlalu lambat mengambil keputusan?”
“Apakah saya terlalu banyak analisis sebelum bertindak?”
“Apakah saya sudah cukup berani mengambil inisiatif?”
“Apa satu tindakan yang seharusnya saya lakukan lebih cepat?”
Yang penting, minta feedback yang spesifik, bukan umum.
Jangan hanya bertanya: “Bagaimana performa saya?”
Lebih baik bertanya: “Dalam tiga bulan terakhir, keputusan atau tindakan apa yang menurut Bapak/Ibu seharusnya saya ambil lebih cepat?”
2. Minta Feedback dari Bawahan
Bawahan sering melihat perilaku leader dalam situasi harian. Mereka tahu apakah leader cepat membantu, lambat merespons, terlalu mengontrol, atau justru membiarkan masalah terlalu lama.
Pertanyaan yang bisa digunakan:
“Apakah saya cukup cepat membantu ketika ada hambatan?”
“Apakah saya terlalu lama mengambil keputusan?”
“Apakah saya terlalu sering mengambil alih pekerjaan tim?”
“Apakah saya mendorong eksekusi dengan jelas?”
“Apa yang perlu saya ubah agar tim lebih cepat bergerak?”
Feedback dari bawahan sangat penting karena Action Oriented bukan hanya soal kecepatan pribadi, tetapi juga kemampuan membuat tim bergerak.
3. Minta Feedback dari Mentor
Mentor bisa membantu melihat pola yang lebih dalam. Kadang seorang Leader lambat bertindak bukan karena malas, tetapi karena takut gagal, terlalu perfeksionis, atau kurang percaya diri.
Mentor dapat membantu menjawab:
Apa pola penundaan saya?
Apa yang membuat saya ragu?
Kapan saya paling berani bertindak?
Kapan saya terlalu agresif?
Bagaimana menyeimbangkan kecepatan dan kualitas?
Mentor yang baik tidak hanya memberi motivasi, tetapi juga memberi koreksi jujur.
4. Belajar dari Rekan Lama atau Mantan Atasan
Leader yang pernah bekerja dengan kita di masa lalu bisa memberikan perspektif tentang pola yang berulang.
Pertanyaan yang bisa diajukan:
“Saat kita pernah bekerja bersama, apakah saya termasuk cepat bertindak?”
“Apa kelemahan saya dalam eksekusi?”
“Apakah saya cenderung menunda atau terlalu cepat mengambil tindakan?”
“Apa perubahan yang paling perlu saya lakukan?”
Feedback dari masa lalu bisa membantu melihat pola yang mungkin masih terbawa sampai sekarang.
C. Pengembangan Berbasis Edukasi dan Pelatihan
Pengembangan melalui edukasi berguna untuk membangun pemahaman, cara berpikir, dan alat bantu pengambilan keputusan.
Berdasarkan referensi yang Anda berikan, beberapa topik pembelajaran yang relevan adalah:
1. Self-Empowerment: Mengatur dari Dalam Diri Sendiri
Pembelajaran ini relevan karena Action Oriented sangat terkait dengan kemampuan menggerakkan diri sendiri.
Fokus pengembangannya:
Membangun motivasi internal;
Tidak bergantung pada instruksi terus-menerus;
Mengambil tanggung jawab pribadi;
Mengelola rasa takut;
Membangun disiplin diri;
Memperkuat rasa kepemilikan terhadap pekerjaan.
Prinsip pentingnya: Leader yang Action Oriented tidak menunggu disuruh untuk melakukan hal yang memang perlu dilakukan.
2. Making Business Decisions
Action Oriented membutuhkan kemampuan mengambil keputusan bisnis. Leader yang terlalu lambat sering kali bukan tidak mau bergerak, tetapi tidak tahu bagaimana mengambil keputusan dalam kondisi tidak pasti.
Materi ini membantu dalam:
Menentukan prioritas;
Menilai risiko;
Memilih tindakan yang paling berdampak;
Membedakan masalah penting dan tidak penting;
Mengambil keputusan dengan data yang belum sempurna;
Menghindari over-analysis.
Leader yang baik tidak hanya cepat, tetapi juga tahu kapan harus cepat dan kapan perlu berhenti sejenak untuk menganalisis.
3. Personal Accountability: Working for Your Inner Boss
Kompetensi ini berhubungan dengan rasa tanggung jawab pribadi. Leader yang Action Oriented tidak terus-menerus menyalahkan keadaan, atasan, tim, atau sistem.
Ia bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan sekarang?”
“Bagian mana yang menjadi tanggung jawab saya?”
“Apa langkah kecil yang bisa saya mulai?”
“Apa komitmen saya?”
“Apa hasil yang harus saya berikan?”
Personal accountability membuat seorang Leader tidak mudah menjadi korban keadaan.
4. Managing Teams
Action Oriented dalam posisi leadership bukan hanya soal dirinya cepat bergerak, tetapi juga bagaimana ia membuat tim ikut bergerak.
Materi Managing Teams membantu leader untuk:
Membagi tugas dengan jelas;
Menetapkan target;
Menghilangkan hambatan kerja;
Mempercepat koordinasi;
Mengelola konflik;
Memastikan follow up;
Menjaga akuntabilitas;
Mendorong hasil bersama.
Leader yang Action Oriented tetapi tidak mampu mengelola tim bisa menjadi Leader yang sibuk sendiri. Leader yang matang mampu mengubah energinya menjadi energi kolektif tim.
6. Akar Masalah Jika Seorang Leader Lemah dalam Action Oriented
Agar pengembangannya tepat, kita perlu memahami akar penyebabnya. Tidak semua Leader lambat bertindak karena alasan yang sama.
Sering menunda, kemungkinan akar masalah:takut gagal, bingung mulai dari manaà cara mengatasi: pecah pekerjaan menjadi langkah kecil.
Terlalu banyak analisis, kemungkinan akar masalah: perfeksionisme, risk averseà cara mengatasi: tetapkan batas waktu analisis.
Tidak berani ambil keputusan ,kemungkinan akar masalah:kurang percaya diri àcara mengatasi: mulai dari keputusan kecil.
Lambat menangkap peluang, kemungkinan akar masalah: Tidak peka terhadap prioritas bisnisàcara mengatasi: latih membaca dampak dan urgensi.
Tidak termotivasi, kemungkinan akar masalah: bosan, burnout, tidak merasa bermaknaàcara mengatasi: evaluasi beban kerja dan tujuan pribadi.
Target terlalu aman, kemungkinan akar masalah: takut gagal dinilai buruk à cara mengatasi: gunakan stretch target bertahap.
Tahu tapi tidak bertindak, kemungkinan akar masalah: lemah dalam accountability à cara mengatasi: buat komitmen publik dan follow up.
7. Perbedaan Action Oriented yang Sehat dan yang Berlebihan
Action Oriented yang Sehat:
Cepat bertindak setelah memahami prioritas
Berani mengambil keputusan dengan data cukup
Menggerakkan tim
Fokus pada hasil penting
Mendorong progress
Menyelesaikan masalah
Tetap menjaga keseimbangan hidup
Action Oriented yang Berlebihan:
Bertindak terlalu cepat tanpa memahami masalah
Mengabaikan data dan langsung menekan eksekusi
Mengontrol tim secara berlebihan
Sibuk pada banyak aktivitas tanpa strategi
Memaksa kecepatan sampai tim kelelahan
Membuat masalah baru karena terburu-buru
Menjadi workaholic dan burnout
Intinya, Action Oriented yang matang adalah cepat, tetapi tetap sadar arah.
8. Contoh Perilaku Action Oriented di Tempat Kerja
Dalam Sales
Segera follow up prospek;
Tidak menunda membuat penawaran;
Cepat menjawab pertanyaan customer;
Aktif mencari peluang baru;
Tidak hanya menunggu inquiry masuk.
Dalam Produksi
Segera menangani bottleneck;
Cepat melakukan tindakan korektif;
Tidak membiarkan defect berulang;
Langsung melakukan koordinasi ketika material terlambat;
Mendorong penyelesaian pekerjaan sesuai target.
Dalam Engineering
Segera mengklarifikasi kebutuhan teknis;
Tidak menunda drawing;
Cepat menyelesaikan revisi;
Aktif memberi solusi teknis;
Tidak menunggu masalah membesar.
Dalam Leadership
Membuat keputusan yang diperlukan;
Menghilangkan hambatan tim;
Memberi arahan yang jelas;
Memastikan action plan berjalan;
Melakukan follow up secara disiplin;
Tidak membiarkan masalah menggantung.
9. Cara Praktis Mengukur Diri Sendiri
Gunakan pertanyaan refleksi berikut. Beri skor 1–5.
1 = sangat tidak sesuai
2 = kurang sesuai
3 = cukup sesuai
4 = sesuai
5 = sangat sesuai
No-->Pernyataan-->Skor
Saya cepat mengambil tindakan ketika melihat peluang. Skor =...?
Saya tidak menunggu kondisi sempurna untuk mulai bekerja. Skor =...?
Saya menikmati pekerjaan yang menantang. Skor =...?
Saya mampu menjaga energi kerja dalam situasi sulit. Skor =...?
Saya jarang menunda pekerjaan penting. Skor =...?
Saya berani mengambil keputusan walaupun data belum 100% lengkap. Skor =...?
Saya sering menjadi Leader pertama yang mendorong eksekusi. Skor =...?
Saya menetapkan target yang cukup menantang. Skor =...?
Saya segera melakukan follow up setelah meeting atau diskusi. Skor =...?
Saya mampu mengubah ide menjadi tindakan nyata. Skor =...?
Interpretasi dari Total Skor:
10–24 =Action Oriented masih lemah. Perlu membangun keberanian, disiplin, dan kecepatan eksekusi.
25–34 =Cukup, tetapi masih mudah ragu atau menunda pada situasi tertentu.
35–44=Baik. Sudah cukup kuat dalam mengambil tindakan dan mendorong hasil.
45–50=Sangat kuat. Perlu hati-hati agar tidak overuse, terburu-buru, atau workaholic.
10. Development Plan 30 Hari
Berikut contoh rencana pengembangan praktis.
Date-->Fokus-->Tindakan
Minggu 1: Identifikasi pola menunda, tindakan =Catat 5 pekerjaan yang sering ditunda dan alasan sebenarnya
Minggu 2: Mulai tindakan kecil, tindakan =Pilih 2 pekerjaan tertunda dan selesaikan dalam deadline pendek
Minggu 3: Ambil tantangan, tindakan =Ikut menangani satu masalah nyata di tim atau proses kerja
Minggu 4: Evaluasi dan feedback, tindakan =Minta feedback dari atasan/ rekan tentang kecepatan eksekusi Anda
Target 30 hari:
Minimal 3 pekerjaan tertunda selesai;
Minimal 1 peluang ditindaklanjuti;
Minimal 1 keputusan dibuat lebih cepat dari biasanya;
Minimal 1 feedback diperoleh dari atasan atau rekan;
Minimal 1 kebiasaan menunda berhasil dikurangi.
11. Kalimat Kunci untuk Mengembangkan Mindset Action Oriented
Gunakan prinsip-prinsip ini:
“Mulai kecil, tetapi mulai sekarang.”
“Tidak semua hal perlu sempurna untuk dimulai.”
“Kecepatan tanpa arah itu berbahaya, tetapi arah tanpa tindakan juga sia-sia.”
“Lebih baik pilot kecil yang berjalan daripada rencana besar yang tidak pernah dimulai.”
“Tindakan menciptakan kejelasan.”
“Kesempatan sering hilang bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlambat bergerak.”
12. Kesimpulan
Action Oriented adalah kompetensi penting bagi leader, manager, supervisor, entrepreneur, maupun profesional. Kompetensi ini menunjukkan kemampuan seorang Leader untuk bergerak cepat, mengambil inisiatif, menangkap peluang, menyelesaikan masalah, dan mengubah rencana menjadi hasil nyata.
Namun kompetensi ini harus dijalankan dengan seimbang. Terlalu lemah akan membuat seorang Leader lambat, ragu, dan kehilangan peluang. Terlalu berlebihan akan membuat seorang Leader terburu-buru, tidak strategis, terlalu mengontrol, dan berisiko burnout.
Action Oriented yang matang adalah kombinasi dari:
Energi tinggi + Keberanian bertindak + Prioritas yang jelas + Eksekusi disiplin + Kesadaran risiko.
Dalam bahasa sederhana: Leader yang Action Oriented bukan hanya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi benar-benar melakukannya.
